JawaPos.com – Penggunaan gadget pada generasi muda menjadi salah satu pemicu berkurangnya minat baca. Menyikapi fenomena tersebut, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya bersiap mengembangkan sebuah Kampung Literasi. Dengan mengelola lima wilayah Taman Baca Masyarakat (TBM), program ini menjadi salah satu bentuk pengabdian ITS pada masyarakat.

Ketua Pelaksana Kampung Literasi ITS Dr. Kartika Nuswantara menjelaskan, program tersebut merupakan laboratorium pembelajaran sepanjang hayat. Kampung Literasi adalah bentuk kerja sama yang dilakukan Pusat Studi Potensi Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat (PDPM)-LPPM ITS, Perpustakaan ITS dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya.

Program dilaksanakan selama lima minggu mulai 16 Juli lalu. Tujuannya untuk mendorong terjadinya pembiasaan masyarakat terhadap aktivitas membaca berbagai jenis teks atau wacana.

Selain itu, diharapkan juga bisa memberdayakam TBM di tengah-tengah masyarakat. Kegiatan itu diharapkan akan menjadi cikal bakal terbentuknya laboratorium belajar di TBM kawasan sekitar ITS.

Sesuai usulan Perpustakaan Kota Surabaya, lima TBM yang dikelola yaitu TBM RW 3 Keputih, TBM Kelurahan Kejawan Putih Tambak, TBM Rusunawa Keputih, TBM RW 4 Kejawan Putih Tambak, dan TBM RW 1 Gebang Putih. Sedangkan kegiatan pertama sekaligus menjadi acara pembuka dimulai di TBM RW 3 Keputih.

“Tim pengabdi yang terdiri dari dosen, karyawan, mahasiswa lintas departemen di ITS akan melakukan pendampingan literasi kepada sekitar 100 anak usia 7-12 tahun,” papar Kartika, Kamis (19/7)

Dalam kesempatan tersebut, tim pengabdi ITS juga memberikan sejumlah donasi. Antara lain berupa karpet, papan tulis, perlengkapan majalah dinding, kipas angin, paket buku baru, serta buku bekas layak baca yang merupakan sumbangan civitas akademika ITS. “Anak-anak terlihat sangat bersemangat membaca buku-buku donasi dari ITS,” tambahnya.

Berbeda dengan pengabdian yang dilaksanakan di kawasan Dolly tahun lalu. Kampung Literasi ITS lebih menekankan pada pembudayaan membaca nyaring.

Hal itu dilakukan untuk membuat kegiatan yang menyenangkan guna melatih kebiasaan mendengar pada anak, meningkatkan kejelasan pelafalan membaca, sekaligus membangun interaksi antar kedua pihak. “Jika silent, mereka pasti sibuk sendiri. Sedangkan read aloud minimal dua orang yang melakukan,” jelas dosen bahasa Inggris itu.

Kartika melanjutkan, membaca nyaring juga penting untuk membentuk dan menanamkan nilai moral pada anak. Meyakini prinsip lebih cepat lebih baik, membaca nyaring akan memanfaatkan plastisitas otak anak untuk menyimpan informasi di memori jangka panjang. “Dengan begini, kami sebagai orang tua akan melatih mereka menjadi generasi yang lebih baik,” lanjutnya.

Untuk menumbuhkan kecintaan pada TBM yang semakin meredup, Kampung Literasi turut didukung program reproduksi cerita. Di sini pengunjung yang mayoritas anak-anak itu akan membaca, menceritakan dan kemudian menuliskan cerita baru sesuai dengan informasi yang mereka terima.

Selain itu, ITS juga akan ikut andil dalam membantu penerbitan karya tersebut. “Ini bisa mendorong perasaan bangga usai menghasilkan karya,” ucap Kartika.

Program yang berhasil mengumpulkan 500 buku sumbangan dalam sebulan ini juga berkesempatan memamerkan karya yang telah diterbitkan pada kegiatan open house perpustakaan pada September nanti. Untuk memeriahkan acara, mereka akan mengundang salah satu komunitas menulis di Surabaya. “Agenda open house nanti ada pameran novel anak, pemberian hadiah pada karya terbaik, juga cerdas cermat untuk anak,” pungkasnya.

(did/JPC)

#kampung literasi #its surabaya